Kamis, 02 April 2015

Orang Kampung

"Aku orang kampung, Daeng." Dialog ego ke ambisi Anging mammiri mengendus-endus urat-urat tubuhku Surau mencekam menerkam sepi  lampu 5watt Lelah menyepak bokong ingin terlelap Ini sudah separuh malam Berdua dilerai oleh hijab "Aku ingin meminangmu." Lenguhan suaramu memelas di seberang hijab Nada yang tak bisa kujamah Terekam terang dalam gendang telinga Bagaimana rupamu? Takut? gelisah? cemas, semuanya? Entah Ada pemisah melerai rupa terantuk rupa Kampungku ... Kampung Banggai Pun hanya di pulaunya Mungkin tak kau kenali Tak pernah kau dengar atau Memang tak ada di peta Hanya titik kecil disekitar laut sulawesi bagian tengah Ikhtilat bahasa Ras Tradisi Kau orang Selatan Beda! "Jangan persempit pikiranmu, Ndi', omongkosong semua itu. Allah dan cinta yang satukan kita." Sepoi masih melambai Dingin menyusup ke tulang Seperti kalimatmu barusan Menyusup menyentil sembilan rasaku Apa kau hanya gunakan egomu? Akal sehat belum selaras dengan kenyataan Mengapa memilih aku? "Daeng, aku dari kampung. Orang baru disini. Pikiranku pun masih lampau." Ah, usaikanlah! Hatiku berperang rasio Bergemuruh bak guruh Katamu tadi, darimana? Dari hati? Bualan? Atau ... Permainan kah? Aku tabu dengan orang Selatan "Kau meragukanku Ndi', izinkan aku menyeberang ke kampung halamanmu." * Ditulis di Makassar, 13 Agustus 2012 Banggai Laut, 03 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar